Pages

Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

Contoh Unsur Kebudayaan Mata Pencaharian

Unsur Kebudayaan Mata Pencaharian

Contoh unsur kebudayaan dari mata pencaharian yang ada di desa Kedungwaru kidul, salah satunya adalah petani, karena mayoritas warga desa Kedungwaru Kidul bermatapencaharian sebagai petani.




1.      Bentuk
Mata pencaharian petani yang merupakan profesi dari mayoritas warga desa Kedungwaru Kidul yang berbentuk kegiatan atau pekerjaan menanam padi, palawija, ataupun tanaman lainnya.

2.      Fungsi
Mata pencaharian petani merupakan pekerjaan dari mayoritas masyarakat desa Kedungwaru Kidul yang memiliki fungsi untuk menggunakan lahan atau sawah yang dimanfaatkan dengan baik untuk bercocok tanam, guna memberikan suatu penghasilan terhadap masyarakat yang memang mayoritas warganya adalah bermatapencaharian sebagai petani.

3.      Makna

Petani merupakan suatu mata pencaharian yang memiliki makna bahwa Pertanian dalam arti sempit dan luas. Pertanian dalam arti sempit adalah bercocok tanam, jadi hanya kegiatan usaha tanaman. Dalam arti luas pertanian meliputi bercocok tanam, kehutanan, dll. Dengan kata lain maksud petani disini memiliki makna sebagai orang atau pelaku yang melaukan kegiatan bercocok tanam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Contoh Unsur Kebudayaan Kesenian

Unsur Kebudayaan  Kesenian

Contoh unsur kebudayaan dari kesenian yang ada di desa Kedungwaru kidul, salah satunya adalah zipin.




1.      Bentuk
Kesenian zipin yang ada di desa Kedungwaru Kidul biasanya berbentuk suatu perkumpulan remaja asli desa Kedungwaru Kidul yang memainkan alat – alat musik seperti rebana, dan diiringi dengan melantunkan lagu – lagu atau syair Islam yang biasanya dikenal dengan shalawat. Pelaksanaan acara yang diiringi dengan kesenian zipin biasanya dilaksanakan ketika hampir larut malam.

2.      Fungsi
Kesenian zipin yang ada di desa Kedungwaru Kidul berfungsi untuk menghibur dan mengiringi pada acara puputan bayi, yaitu ketika bayi yang pusarnya sudah putus atau puput,.

3.      Makna
Kesenian zipin ini memiliki makna bahwa Zapin atau zipin merupakan hasanah tarian rumpun Melayu yang mendapat pengaruh dari Arab. Kesenian zipin ini bersifat edukatif dan sekaligus menghibur, digunakan sebagai media dakwah Islamiyah melalui syair lagu-lagu zapin yang didendangkan dan diiringi alat musik seperti alat – alat musik rebana.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Contoh Unsur Kebudayaan Teknologi dan Peralatan

Unsur Kebudayaan Teknologi dan Peralatan

Contoh unsur kebudayaan dari teknologi dan peralatan yang ada di desa Kedungwaru kidul, salah satunya adalah Luku ( bajak ). Masyarakat desa kedungwaru Kidul yang mayoritas pekerjaannya adalah bertani, dimana ketika bertani masih menggunakan alat-alat tradisional yang salah satunya yaitu Luku ( bajak ).


1.      Bentuk
Peralatan Luku disini adalah alat yang terbuat dari kayu yang telah disusun sedemikian rupa hingga perbentuk alat yang biasanya disebut dengan bajak, digunakan sebagai pembajak sawah yang ditarik oleh dua ekor kerbau, dan dikendalikan oleh seorang pembajak.

2.      Fungsi
Peralatan Luku ini berfungsi untuk membajak sawah yang memudahkan petani untuk menggarap atau memanfaatkan lahannya, yang selanjutnya untuk ditanami padi atau tanaman lainnya.

3.      Makna

Dalam bahasa Jawa, bajak biasanya disebut dengan Luku. Berawal dari kata laku atau mlaku yang bermakna orang yang membajak sawah, ibaratnya adalah orang yang sedang memulai suatu kehidupan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Contoh Unsur Kebudayaan Bahasa

Unsur Kebudayaan Bahasa

Contoh unsur kebudayaan dari bahasa yang ada di desa Kedungwaru kidul, salah satunya yaitu bahasa doa tahlil. Pelaksanaan doa tahlil biasanya dilaksanakan pada malam senin dan malam jum’at di masjid dan musholla – musholla terdekat.

1.      Bentuk
Bentuk dari doa tahlil yang biasanya diterapkan di desa Kedungwaru Kidul yaitu melalui pengajian khusus doa tahlil. Dalam pelaksanaan doa tahlil yaitu dilaksanankan dengan pembacaan doa tahlil yang biasanya dipimpin oleh seorang yang dianggap sesepuh dan juga ahli memimpin doa.

2.      Fungsi
Bahasa doa tahlil ini memiliki fungsi untuk mendo’akan atau mengirimkan doa kepada orang yang telah meninggal, agar orang yang di do’akan mendapat kemudahan dalam hidupnya di akherat.

3.      Makna

Bahasa doa tahlil yang telah dikirimkan kepada orang yang telah meninggal tersebut memilki makna, bahwa doa tahlil sendiri bermakna sebagai bacaan atau doa yang telah di baca atau dikirimkan akan sampai kepada orang yang telah meninggal.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Contoh Unsur Kebudayaan Pengetahuan

Unsur Kebudayaan  Pengetahuan

Contoh unsur kebudayaan dari pengetahuan yang ada di desa Kedungwaru kidul, salah satunya adalah pengetahuan tentang Pranata Mangsa atau aturan waktu musim digunakan oleh petani di pedesaan khususnya petani di desa Kedungwaru Kidul Karanganyar Demak.

1.      Bentuk
Bentuk dari pengetahuan masyarakat desa Kedungwaru Kidul tentang Pranata Mangsa aturan waktu musim digunakan oleh petani di pedesaan yang didasarkan pada naluri dari leluhur dan dipakai sebagai patokan untuk mengolah pertanian. Misalnya urutan pranata mangsa Kasa berumur 41 hari (22 Juni – 1 Agustus). Pada masa ini, para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan di masa ini dimulai menanam palawija.










2.      Fungsi
Pengetahuan Pranata Mangsa ini oleh para petani berfungsi untuk memberikan arahan kepada petani dalam bercocok tanam dengan mengikuti tanda-tanda alam dalam mangsa yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti misalnya air dan saluran irigasinya. Melalui perhitungan pranata mangsa maka alam dapat menjaga keseimbangannya.

3.      Makna

Pengetahuan Pranata Mangsa ini memiliki makna, Pranata yang berarti aturan, Mangsa berarti waktu atau musim. Pranata mangsa bermakna aturan waktu musim yang digunakan petani dalam menggunakan lahan untuk bercocok tanam.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Contoh Unsur Kebudayaan Sistem Organisasi Kemasyarakatan

Unsur Kebudayaan  Sistem Organisasi Kemasyarakatan

Contoh unsur kebudayaan dari sistem organisasi kemasyarakatan yang ada di desa Kedungwaru kidul, salah satunya adalah rewang.  Rewang biasanya dilakukan secara bersama – sama atau berkelompok di tempat kerabat atau tetangga yang sedang memiliki suatu acara.


1.      Bentuk
Unsur kebudayaan dari sistem organisasi kemasyarakatan salah satunya yaitu rewang. Yang berbentuk bantuan pekerjaan ataupun kegiatan yang dilaksanakan secara bersama – sama atau berkelompok dengan cara membantu kerabat atau tetangga sekitar yang sedang memiliki acara seperti pernikahan, syukuran, puputan, ataupun acara lainnya.

2.      Fungsi
Kegiatan rewang memiliki fungsi untuk memberikan bantuan kepada kerabat atau tetangga yang sedang memiliki suatu acara. Kegiatan rewang yang dilakukan dalam suatu perkumpulan ataupun acara yang dilaksanakan oleh kerabat atau tetangga  memiliki fungsi sebagai sarana untuk memupuk rasa persaudaraan dan mempererat tali silaturrahmi diantara warga lainnya.

3.      Makna

Rewang merupakan suatu bahasa Jawa halus atau krama inggil yang berarti bantu. Dalam hal ini, kegiatan rewang memiliki makna orang yang sedang melakukan bantu – bantu, yaitu membantu orang lain yang sedang memiliki kegiatan atau acara yang sekiranya membutuhkan bantuan orang lain.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Contoh Unsur Kebudayaan Sistem Religi dan Upacara Keagamaan

Unsur Kebudayaan Sistem Religi dan Upacara Keagamaan

Contoh unsur kebudayaan dari sistem religi dan upacara keagamaan yang ada di desa Kedungwaru kidul, salah satunya adalah tradisi atau upacara Barikan. Di desa Kedungwaru Kidul Karanganyar Demak, tradisi barikan dilaksanakan oleh warga per RT setiap tanggal 1 Suro (tahun baru Hijriyah). Pelaksanaan tradisi ini diawali dengan penyembelihan kambing Jawa oleh Modin desa di pertigaan / perempatan kampung. Waktu yang digunakan dalam penyembelihan kambing biasanya bakda sholat Dzuhur. Kambing yang telah disembelih, selanjutnya dimasak oleh ibu-ibu warga. Kemudian kambing yang telah masak didoakan (diselameti) oleh kiai desa, yang selanjutnya daging kambing tersebut dibagikan kepada warga.

1.      Bentuk
Tradisi “Barikan” ini berbentuk selametan. Tradisi dilakukan dengan menyembelih kambing di pertigaan / perempatan kampung. Waktu yang digunakan dalam penyembelihan kambing biasanya bakda sholat Dzuhur. Kambing yang telah disembelih, selanjutnya dimasak oleh ibu-ibu warga. Kemudian kambing yang telah masak didoakan (diselameti) oleh kiai desa, yang selanjutnya daging kambing tersebut dibagikan kepada warga.

2.      Fungsi
Tradisi Barikan ini berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat atau berkah yang telah diterima dari sang Kuasa. Tradisi dilaksanakan di pertigaan / perempatan kampung juga memiliki fungsi untuk mempererat persaudaraan dan tali silaturrahmi diantara warga sekitar.

3.      Makna

Dalam tradisi Barikan ini memiliki makna untuk mengungkapkan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat atau berkah yang telah diterima dari sang Kuasa. Penyembelihan kambing juga memiliki makna sebagai sarana untuk menolak bala.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

Tradisi Barikan


Tradisi Barikan di Desa Kedungwaru Kidul

Barikan merupakan tradisi yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat atau berkah yang telah diterima dari sang Kuasa. Barikan sendiri berasal dari bahasa Arab baro’ah yang berarti berkah. Di desa Kedungwaru Kidul Karanganyar Demak, tradisi barikan dilaksanakan oleh warga per RT setiap tanggal 1 Suro (tahun baru hijriah). Selain sebagai ungkapan rasa syukur tradisi barikan merupakan alat untuk memperkuat solidaritas diantara warga setempat. Ketika menjelang tanggal 1 Suro sebagian besar masyarakat sudah sibuk memperbincangkan penyembelihan wedhus Jawa. Memang dalam tradisi barikan yang digelar identik dengan menyembelih wedhus Jawa (kambing). Dana yang digunakan untuk menyiapkan semua keperluan tradisi barikan berasal dari iuran warga per KK (kepala keluarga) seminggu menjelang pemotongan kambing dilaksanakan.
Ketika tepat tanggal 1 Suro kambing yang telah dibeli tersebut di sembelih oleh Moden desa. Penyembelihan dilaksanakan di pertigaan/perempatan kampung. Waktu yang digunakan dalam penyembelihan kambing umumnya bakda sholat Dzuhur. Kambing yang sudah disembelih, selanjutnya adalah tugas para ibu-ibu untuk memasak daging tersebut.
Ketika semuanya sudah selesai dan setelah bakda sholat magrib masuklah pada ritual yang sakral. Daging kambing tersebut di doakan (selametin) oleh kiai desa. Proses selamaten tersebut berlangsung di pertigaan/perempatan yang bertepatan dengan tempat penyelembehan kambing sekaligus tempat memasak kambing tersebut. Pada saat tersebut warga datang secara berbondong-bondong ke pertigaan/perempatan tempat acara selametan berlangsung dengan membawa sega (nasi). Pembawaan nasi dimaksudkan untuk ikut disertakan dalam doa yang akan dipanjatkan bersama olahan daging kambing tersebut. Setelah warga sudah berkumpul semua dan mulailah dipanjatkan doa. Harapanya dengan masuknya tahun tahun baru hijriah (1 Suro) masyarakat daerah setempat mendapat keselamatan dalam kehidupannya. Setelah proses doa selesai, daging yang di doain tersebut dibagi kepada warga secara merata.


1.      Struktur Tradisi Lisan
a.       Bentuk Tradisi
Tradisi “Barikan” ini berbentuk selametan yang merupakan ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat atau berkah yang telah diterima dari sang Kuasa.
b.      Perangkat Tradisi
Perangkat yang digunakan dalam tradisi ini yaitu Kambing Jawa.
c.       Pelaksanaan Tradisi
Tradisi “Barikan” ini dilaksanakan oleh warga per RT setiap tanggal 1 Suro (tahun baru hijriah). Pelaksanaan tradisi ini diawali dengan penyembelihan kambing Jawa oleh Modin desa di pertigaan/perenpatan kampung. Kambing yang telah disembelih, selanjutnya dimasak oleh ibu-ibu warga. Kemudian kambing yang telah masak didoakan (diselameti) oleh kiai desa, yang selanjutnya daging kambing tersebut dibagikan kepada warga.
d.      Pelaku Tradisi
Pelaku dalam tradisi “Barikan” ini yaitu:
·         Modin desa, orang yang menyembelih kambing.
·   Warga RT setempat, yang berperan dalam proses pengolahan serta memasak kambing tersebut.
·         Kiai desa, yang mendoakan daging kambing tersebut untuk diselameti.
e.       Ujaran
Ujaran atau tuturan yang digunakan adalah doa yang tujuannya untuk mendapatkan keselamatan dalam hidup kedepan.

2.      Fungsi Tradisi
a.       Fungsi Sosial
Fungsi sosial dalam tradisi ini yaitu untuk memperkuat solidaritas diantara warga setempat.
b.      Fungsi Religi
Fungsi religi dalam tradisi ini yaitu untuk menghormati leluhur, serta sebagai sarana untuk mendapat keselamatan dalam hidup.


3.      Makna Simbolik
a.       Makna Perilaku
Menyembelih kambing di pertigaan/perempatan jalan bertujuan untuk memupuk kerukunan serta solidaritas antar warga setempat.
b.      Makna Kebendaan
Makna kambing dalam tradisi tersebut yaitu sebagai sarana untuk menolak bala.
c.       Makna Ujaran
Doa-doa yang diucapkan  bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS